Vaksinasi Rabies pada Peliharaan dan Hewan Pembawa Virus Rabies

Sejarah pemakaian vaksin rabies


Pemberian vaksinasi rabies untuk hewan mulai diuji coba dan dikenal masyarakat, sekitar 1879 oleh Victor Galtier. Pada perkembangan dan penelitian yang terus berlangsung, Louis Pasteur ilmuwan Prancis (1884) membeberkan cara pembuatan vaksin yang baru bersumber dari virus sumsum tulang belakang anjing yang terindikasi dan diatenuasikan memakai KOH.

Tahun 1993, dengan telur ayam bertunas, Kliger dan Bernkopf melakukan cara baru mengembangkan patologi virus, dimana metodologi tersebut sempat digunakan Koprowski dan Cox menghasilkan vaksin aktif strain flury HEP pada tahun 1955. Penelitian yang dilakukan ilmuwan lain terhadap virus rabies, juga dilakukan Naguchi (1913), Levaditi (1914), Kissling (1958).

Penyebab virus rabies menjadi perhatian ilmuwan


Banyak penelitian dan pengembangan pencegahan resiko penyakit dilakukan ilmuwan terhadap penyakit yang bersumber dari bakteri dan virus. Salah satunya virus rabies atau dikenal penyakit 'anjing gila' yang banyak menelan korban karena menyerang sistem saraf penderita.

Penularan penyakit yang bersumber dari hewan tersebut, telah menjadi perhatian dan sempat terkenal tahun 2300 SM, masa Babilonia kekuasaan Hammurabi. Salah satu negara yang paling serius menanggulangi hewan pembawa rabies, adalah Inggris. Pada tahun 1026 dengan berbagai kebijakan untuk mengontrol resiko infeksi. Beberapa aturan yang dikeluarkan seperti Metropolitan Streets Act (1867), Rabies Order (1887), kemudian Act of Parliament (1897) hingga dinyatakan bebas di tahun 1903.

Masing-masing negara memiliki ciri khas yang tidak sama terhadap penularan virus. Misalnya di Amerika dengan suhu tropis, dominan terjadi karena anjing, kucing dan kelelawar penghisap darah dan pemakan serangga. Daerah Afrika, hewan seperti anjing, kucing, jakal dan monggus disebutkan hewan sumbernya. Sementara untuk Timur Tengah, hewan yang menularkan cenderung terdapat pada lembu dan anjing hutan. Untuk wilayah Indonesia, selain anjing dan kucing, jenis hewan lain dimungkinkan berada dalam samping, kambing hingga kuda.

Status hewan pembawa rabies di Indonesia pertama kali muncul pada kuda (1884), kerbau (1889), anjing(1890).

Secara umum, beberapa jenis hewan yang sering menjadi sumber pembawa virus, diantaranya:

1. Peliharaan dan ternak
kucing,anjing, sapi, kuda, hingga kambing, dan lainnya
2. Hewan liar
kelelawar, monyet, rakun, rubah, musang, berang-berang dan lainnya.

Salah satu penyebab virus rabies menjadi perhatian ilmuwan, penyakit ini sempat muncul di seluruh dunia, kecuali Antarktika. Dalam setiap tahunnya, sekitar 59.000 jiwa meninggal karena paparan virus tersebut. Sementara itu, tingkat kematian yang cukup tinggi sekitar 95% terjadi di Asia dan Afrika dengan 40% yang tergigit hewan penular adalah anak dibawah 15 tahun.

Selain melalui gigitan dan kontak dengan hewan pembawa rabies yang menjadi sumber penyakit, pencemaran udara yang mengandung virus rabies, kemungkinan bisa menularkan pada manusia, meski jarang terjadi.

Tahun 1950 dilaporkan dua penjelajah gua di Frio Cave, Texas, dikonfirmasikan tertular dari udara karena memasuki gua yang terdapat jutaan kelelawar hidup di dalamnya. Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan tanda bekas gigitan kelelawar.

Beberapa gejala rabies pada hewan


Rabies adalah infeksi yang menyerang sistem saraf mamalia dan termasuk dalam kelompok penyakit zoonotik (dapat menular dari hewan ke manusia). Hewan pembawa rabies akan menunjukkan beberapa gejala, seperti:

  • Pada anjing, cenderung terus menerus mengeluarkan air liur
  • Perilaku hewan peliharaan berubah, dari yang tenang menjadi liar dan agresif
  • Saat berada di luar rumah, sulit mengingat jalan pulang
  • Bagian ekor hewan cenderung melengkung ke bawah perut
  • Perilaku senang ditempat gelap dan dingin
  • Selera makan menurun
  • Bunyi suara hewan terdengar parau
  • Gemar makan benda yang tidak umum, seperti kayu, batu dan lainnya
  • Mengalami kejang dan dapat menjadi lumpuh
  • Sulit untuk menelan.


Penyebab Hewan Peliharaan Perlu vaksinasi rabies


Cara mencegah resiko dan bahaya yang ditimbulkan virus, selain menghindar kontak langsung dari gigitan hewan liar dan peliharaan yang belum di vaksinasi rabies. Langkah pencegahan yang lebih dini juga dilakukan Pemerintah daerah dengan bekerja sama instansi terkait, seperti Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Pelaksanaan vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan bagi masyarakat yang memiliki kucing, anjing, monyet, dan hewan pembawa virus rabies lainnya, sering dilaksanakan secara gratis tanpa dipungut biaya sesuai syarat dan kondisi yang berlaku. Umumnya, Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) masing-masing daerah, mengadakan sosialisasi dan pemberian vaksin pada periode dan waktu tertentu.

Masyarakat yang memelihara dan merawat peliharaan dan memberi vaksinasi rabies untuk hewannya, selain memberi perlindungan dan rasa aman terhadap penyakit, perlu mengingat juga, kemampuan antibodi akan menurun sejalannya waktu sehingga perlu melakukan dosis booster vaksin menurut rekomendasi dokter. Umumnya pengulangan penguatan vaksin rabies dilakukan 3 tahun sekali.




Related Posts

Subscribe Our Newsletter