Perkembangan Keagamaan Anak

Sebagai mahluk ciptaan tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak lahir. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada sang pencipta. Dan dengan adanya potensi bawaan ini, manusia pada hakikatnya adalah mahkluk beragama.
Perkembangan agama pada manusia sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, tertutama pada masa-masa pertumbuhan yang pertama (masa anak), seorang anak yang pada masa itu tidak mendapat pendidikan agama dan tidak mempunyai pengalaman keagamaan maka ia nantinya setelah dewasa akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama. Karena agama masuk dalam pribadi anak bersamaan dengan pertumbuhan pribadinya yaitu sejak lahir.
1. Timbulnya Jiwa Kegamaan Pada Anak
Anak sejak lahir telah membawa fitrah kaagamaan. Fitrah itu baru berfungsi di kemudian hari melalui proses bimbingan dan latihan setelah berada pada tahap kematangan.
Menurut tinjauan pendapat, bayi dianggap sebagai manusia dipandang dari segi bentuk dan bukan kejiwaan. Apabila bakat elementer bayi lambat bertumbuh dan matang maka agak sukarlah untuk melihat adanya keagamaan pada dirinya. Meskipun demikian ada yang berpendapat bahwa tanda-tanda keagamaan pada anak tumbuh terjalin secara integral dengan perkembangan funsi-fungsi kejiwaan lainnya. Jika demikian maka apakah faktor yang dominan dalam perkembangan ini? Dalam membahas masalah ini ada beberapa teori mengenai pertumbuhan agama pada anak antara lain:
a. Rasa ketergantungan (sense of Depende)
Dikemukakan oleh Thomas melalui teori Four Wishes. Menurutnya manusia dilahirkan kedunia ini memiliki empat keinginan yaitu: keinginan untuk perlindungan, keinginan akan pengalaman baru, keinginan untuk mendapatkan tanggapan dan keinginan untuk dikenal.
b. Instink keagamaan
Menurut Woodworth, bayi yang dilahirkan sudah memiliki beberapa instink keagamaan. Belum terlihatnya tindak keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna. Misalnya instink sosial pada anak sebagai potensi bawaannya sebagai makhluk homo socius, baru akan befungsi setelah anak dapat bergaul dan berkemampuan untuk berkomunikasi.

2. Perkembangan Agama Pada Anak-Anak
Menurut Ernest Harms perkembangan agama anak itu mempunyai beberapa tingkat yang dipaparkan dalam buku The Development of Religious on Children ia mengatakan bahwa agama pada anak melalui tiga tingkatan yaitu:
a. The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkatan ini dimulai pada anak-anak yang berusia 3 sampai 6. pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agama pun anak masih mengunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
b. The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan pada anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu maka pada masa ini anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. Segala bentuk tindak (amal) keagamaan mereka ikuti dan mempelajarinya dengan penuh minat.
c. The Individual Stage (Tingkat Individual)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan ini dapat digolongkan menjadi tiga:
1) Konsep ketuhanan yang konvensional dan koservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar.
2) Konsep ketuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan).
3) Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh faktor intern yaitu perkembangan usia dan fakror ekstern berupa pengaruh luar yang dialaminya.

3. Sifat-sifat Agama Pada Anak-Anak
Dalam kaitannya dengan perkembangan agama, muncul sifat-sifat agama yang dimiliki oleh anak antara lain:
a. Unreflective (tidak mendalam), yaitu kebenaran agama yang diterima anak tidak begitu dalam sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka sudah merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal.
b. Egosentris, yaitu dalam masalah keagamaan anak lebih menonjolkan kepentingan dirinya dan lebih menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan dirinya.
c. Anthromorphis, yaitu konsep mengenai tuhan berasal dari hasil pengalaman di kala ia berhubungan dengan orang lain. Melalui konsep yang terbentuk dalam pikiran mereka, anak mengaggap bahwa keadaan tuhan itu sama dengan manusia.
d. Verbalis dan Ritualis, yaitu dari kenyataan yang kita alami ternyata kehidupan agama pada anak-anak sebagaimana tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan-ucapan). Latihan-latihan bersifat verbal dan upacara keagamaan yang bersifat ritual (praktek) merupakan hal yang berarti dan merupakan salah satu ciri dari tingkat perkembangan agama pada anak-anak.
e. Imitatif, yaitu Keagamaan pada anak-anak bersifat meniru seperti gerakan sholat, berdo’a dan lain-lain.
Rasa heran, yaitu sifat ini merupakan tanda sifat keagamaan yang terakhir pada anak, rasa kagum pada anak-anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum terhadap lahiriyah saja. Perasaan kagum ini dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub.

Rujukan:
1. Darajat, Zakiyah, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1996. Hal 59-70.
2. Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: P.T Remaja Rosdakarya, 2004.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com
LihatTutupKomentar