Pengertian Budaya Sekolah

Istilah “budaya” mula-mula datang dari disiplin ilmu Antropologi Sosial. Apa yang tercakup dalam definisi budaya sangatlah luas. Istilah budaya dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, budaya (cultural) diartikan sebagai: pikiran; adat istiadat; sesuatu yang sudah berkembang; sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Dalam pemakaian sehari-hari, orang biasanya mensinonimkan pengertian budaya dengan tradisi (tradition). Dalam hal ini, tradisi diartikan sebagai ide-ide umum, sikap dam kebiasaan dari masyarakat yang nampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut.

Tylor mengartikan budaya sebagai "that complex whole which includes knowledge, beliefs, art, morals, laws, customs and my other capabilities and habits negnired by men as a member of society". Budaya merupakan suatu kesatuan yang unik dan bukan jumlah dari bagian-bagian suatu kemampuan kreasi manusia yang immaterial, berbentuk kemampuan psikologis seperti ilmu pengetahuan, teknologi, kepercayaan, keyakinan, seni dan sebagainya.

Koentjaraningrat mengelompokkan aspek-aspek budaya berdasarkan dimensi wujudnya, yaitu: (1) Kompleks gugusan atau ide seperti pikiran, pengetahuan, nilai, keyakinan, norma dan sikap. (2) Kompleks aktivis seperti, pola komunikasi, tari-tarian, upacara adat. (3) Material hasil benda seperti, seni, peralatan dan lain sebagainya. Sedang menurut Robert K. Marton di antara segenap unsur-unsur budaya terdapat unsur yang terpenting yaitu kerangka aspirasi tersebut, dalam artian ada nilai budaya yang merupakan konsepsi abstrak yang hidup di dalam alam pikiran.

Agar budaya tersebut menjadi nilai-nilai yang tahan lama, maka harus ada proses internalisasi budaya. Dalam bahasa Inggris, Internalized berarti to incorporate in oneself. Jadi, internalisasi berarti proses menanamkan dan menumbuhkembangkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri (self) orang yang bersangkutan. Penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik metodik pendidikan dan pengajaran. Seperti pendidikan, pengarahan, indoktrinasi, brain washing dan lain sebagainya. Selanjutnya adalah proses pembentukan budaya yang terdiri dari sub-proses yang saling berhubungan antara lain kontak budaya, penggalian budaya, seleksi budaya, pemantapan budaya, sosialisasi budaya, internalisasi budaya, perubahan budaya, pewarisan budaya yang terjadi dalam hubungannya dengan lingkungannya secara terus-menerus dan berkesinambungan.

Koentjaraningrat menyebutkan unsur-unsur universal dari kebudayaan adalah meliputi: (1) sistem religi dan upacara keagamaan, (2) sistem dan organisasi kemasyarakatan, (3) sistem pengetahuan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem mata pencaharian hidup, dan (7) sistem teknologi dan peralatan. Selanjutnya dijelaskan bahwa budaya itu paling sedikit mempunyai tiga wujud, yaitu kebudayaan sebagai: (1) suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma; (2) suatu kompleks aktivitas kelakukan dari manusia dalam masyarakat; dan (3) sebagai benda-benda karya manusia.

Tiga macam wujud budaya di atas, dalam konteks organisasi disebut dengan budaya organisasi (organizational culture). Dalam konteks perusahaan, diistilahkan dengan budaya perusahaan (corporate culture), dan pada lembaga pendidikan/sekolah disebut dengan budaya sekolah (school culture).

Gagasan yang memandang bahwa Organisasi sebagai suatu budaya di mana ada suatu sistem dari makna yang dianut bersama di kalangan para anggotanya merupakan fenomena yang relatif baru. Pemahaman umum yang selama ini berkembang, bahwa organisasi didefinisikan sebagai suatu alat yang rasional untuk mengkordinasikan dan mengendalikan sekelompok orang yang di dalamnya ada tingkatan jabatan, hubungan, wewenang, dan seterusnya. Namun organisasi sebenarnya lebih dari itu. Organisasi juga merupkan kepribadian, persis seperti individu; bisa tegar atau fleksibel, tidak ramah atau mendukung, inovatif atau konservatif.

Para teoritisi organisasi, akhir-akhir ini telah mulai mengakui hal ini dengan menyadari pentingnya peran yang dimainkan budaya tersebut dalam kehidupan anggota-anggota organisasi. Meskipun demikian, menarik bahwa asal-usul budaya sebagai satu variabel independen yang mempengaruhi sikap dan perilaku seorang atau dapat diruntut baik sejak adanya ide pelembagaan. Bila suatu organisasi menjadi terelembaga, organisasi itu memiliki kehidupannya sendiri, terlepas pendirinya atau siapapun anggotanya. Perubahan status yang dimiliki UIN Malang misalnya, mulai dari IAIN di bawah Surabaya, STAIN, UIIS dan sekarang UIN Malang pasti ada tradisi-tradisi lama yang tetap dipertahankan.

Budaya organisasi mengacu pada keyakinan bersama, sikap dan tata hubungan serta asumsi-asumsi yang secara eksplisit atau implisit diterima dan digunakan oleh seluruh anggota organisasi untuk mengahadapi lingkungan luar dalam mencapai tujun-tujuan organisasi. Dalam hal ini, budaya organisasi mempunyai pengaruh penting terhadap motivasi.
Budaya organisasi (organizatinoal culture) jika diaplikasikan pada lingkungan manajemen organisasi, lahirlah konsep budaya manajemen. Lebih spesifik lagi, jika budaya organisasi diaplikasikan pada lingkungan manajemen organisasi sekolah, maka lahirlah konsep budaya manajemen sekolah.

Dalam suatu organisasi (termasuk lembaga pendidikan), budaya diartikan sebagai berikut:
Pertama, tindakan yaitu keyakinan dan tujuan yang dianut bersama yang dimiliki oleh anggota organisasi yang potensial membentuk perilaku mereka dan bertahan lama meskipun sudah terjadi pergantian anggota. Dalam lembaga pendidikan misalnya, budaya ini berupa saling menyapa, saling menghargai, toleransi dan lain sebagainya.

Kedua, norma perilaku yaitu cara berperilaku yang sudah lazim digunakan dalam sebuah organisasi yang bertahan lama karena semua anggotanya mewariskan perilaku tersebut kepada anggota baru. Dalam lembaga pendidikan, perilaku ini antara lain berupa semangat untuk selalu giat belajar, selalu menjaga kebersihan, bertutur sapa santun dan berbagai perilaku mulia lainnya.

Dalam organisasi sekolah, pada hakikatnya terjadi interaksi antar individu sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing dalam rangka mencapai tujuan bersama. Tatanan nilai yang telah dirumuskan dengan baik berusaha diwujudkan dalam berbagai perilaku keseharian melalui proses interaksi yang efektif. Dalam rentang waktu yang panjang, perilaku tersebut akan membentuk suatu pola budaya tertentu yang unik antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi karakter khusus suatu lembaga pendidikan yang sekaligus menjadi pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya.


Rujukan:
1. J.P. Kotter & J.L. Heskett, Dampak Budaya Perusahaan Terhadap Kinerja. Terjemahan oleh Benyamin Molan, (Jakarta: Prenhallindo, 1992), 4.
2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,( Jakarta: PT. Balai Pustaka, 1991), 149.
3. Soekarto Indrafchrudi, Bagaimana Mengakrabkan Sekolah dengan Orangtua Murid dan Masyarakat, (Malang, IKIP Malang, 1994), 20.
4. Asri Budiningsih, Pembelajaran Moral Berpijak pada Karakteristik Siswa dan Budayanya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 18.
5. Koentjaraningrat, Rintangan-rintangan Mental dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia. (Jakarta: Lembaga Riset Kebudayaan Nasional Seni, No 2, 1969), 17.
6. Fernandez, S.O, Citra Manusia Budaya Timur dan Barat, (NTT: Nusa Indah. 1990), 28.
7. Talizhidu Dhara, Budaya Organisas, (Jakarta: Rinike Cipta, 1997), 82.
8. Geertz Hofstede, Corperate Culture of Organization, (London Francs Pub.1980), 27.
9. Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, (Jakarta: Gramedia, 1989).74
10. Madyo Ekosusilo, Hasil Penelitian Kualitatif, Op.Cit.10.
11. Slamet Rahajo dalam Memadu Sains dan Agama Menuju Universitas Masa Depan, kerjasama UIN Malang dengan Bayumedia, 2004, hal. 269)
12. Anthony-Darden-Bedford, Sistem Pengendalan manajemen, Jilid I, (Jakarta: Bina Rupa Aksara, 1992), 67.
13. Taliziduhu Ndraha, Budaya Organisasi,( Jakarta: Rineka cipta, 1997), 4.
14. John P. Kotter dan James L. Heskett, Corporate Culture an Performance, Alih Bahasa Dampak Budaya Perusahaan Terhadap Kinerja, (Jakarta: PT Perhallindo, 1997), 5.


Dipublikasikan Oleh:
Siti Muawanatul Hasanah, M.Pd

Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com
LihatTutupKomentar