Ciri dan Jenis Pembelajaran Konstruktivistik

Brook dan Brooks (1993) memberikan ciri-ciri guru yang telah mengajar konstruktivistik. Adapun ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
a. Guru adalah salah satu dari berbagai macam sumber belajar, bukan satu-satunya sumber belajar.
b. Guru membawa siswa masuk ke dalam pengalaman-pengalaman yang menentang konsepsi pengetahuan yang sudah ada dalam diri mereka.
c. Guru membiarkan siswa berpikir setelah mereka disuguhi beragam pertanyaan-pertanyaan guru.
d. Guru menggunakan teknik bertanya untuk memancing siswa berdiskusi satu sama lain.
e. Guru menggunakan istilah-istilah kognitif seperti: klasifikasikan, analisis, dan ciptakanlah ketika merancang tugas-tugas.
f. Guru membiarkan siswa bekerja secara otonom dan bersifat inisiatif sendiri.
g. Guru menggunakan data mentah dan sumber primer bersama-sama dengan bahan-bahan pelajaran yang dimanipulasi.
h. Guru tidak memisahkan antara tahap mengetahui dan proses menemukan.
i. Guru mengusahakan agar siswa dapat mengkomunikasikan pemahaman mereka karena dengan begitu mereka benar-benar sudah belajar (Nurhadi, 2004: 40).

Sedangkan ciri-ciri siswa dengan pendekatan konstruktivime adalah siswa membangun pengetahuan dalam pikirannya sendiri. Guru membantu proses pembangunan pengetahuan agar siswa dapat memahami informasi dengan cepat. Disamping itu, guru menyadarkan kepada siswa bahwa mereka dapat membangun makna. Siswa berupaya memperoleh pemahaman yang tinggi dan guru membimbingnya. Adapun misi utama pendekatan konstruktivisme adalah membantu siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui proses internalisasi, pembentukan kembali dan melakukan transformasi informasi yang diperolehnya sebagai pengetahuan yang baru (Siti Annijat, 2003).

Macam-macam Konstruktivisme
Von Glaserfeld dalam Paul Suparno (2001:26-27) membedakan adanya tiga taraf konstruktivisme, yaitu: (a) konstruktivisme radikal, (b) realisme hipotesis, (c) konstruktivisme yang biasa. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Konstruktivisme Radikal
Kaum konstruktivis radikal mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai suatu kriteria kebenaran. Bagi konstruktivis radikal, pengetahuan tidak merefleksikan suatu kenyataan ontologis obyektif, tetapi merupakan suatu pengaturan dan organisasi dari suatu dunia yang dibentuk oleh pengalaman seseorang. Sedangkan yang termasuk konstruktivis radikal adalah Jean Piaget.

Konstruktivisme radikal berpegang bahwa kita hanya dapat mengetahui apa yang dibentuk/ dikonstruksikan oleh pikiran kita. Bentukan itu harus “jalan” dan tidak harus selalu merupakan representasi dunia nyata. Dalam pandangan ini, menurut Nurhadi (2004:36) pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru.

Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari seseorang yang mengetahui, maka tidak dapat ditransfer kepada penerima yang pasif. Penerima sendiri yang mengkonstruksikan pengetahuan itu. Semua yang lain, entah obyek maupun lingkungan, hanyalah sarana untuk terjadinya konstruksi tersebut.

Dalam pandangan konstruktivisme radikal ini sebenarnya tidak ada konstruksi sosial, dimana pengetahuan dikonstruksikan bersama, karena masing-masing orang harus menyimpulkan dan menangkap makna sendiri makna terakhir. Pandangan orang lain adalah bukan untuk dikonstruksikan dan diorganisasikan dalam pengetahuan yang sudah dipunyai orang itu sendiri.

Konstruktivisme ini tidak pernah mengklaim objektivitas. Menurut mereka, kita tidak dapat melihat dunia pengalaman kita dari luar. Kita membentuknya dari dalam dan hidup dengannya lama sebelum kita mulai bertanya dari mana dan apa itu sebenarnya.
b. Realisme hipotesis
Menurut relisme hipotesis, pengetahuan (ilmiah) kita dipandang sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataan dan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati, yang dekat dengan realitas. Menurut Munevar (1981) dalam Bettencourt (1989) bahwa pengetahuan kita mempunyai relasi dengan kenyataan tetapi tidak sempurna.
c. Konstruktivisme yang biasa
Dalam aliran konstruksi yang biasa ini tidak mengambil semua konsekuensi konstruktivisme. Menurut aliran ini, pengetahuan kita merupakan gambaran dari realitas itu. Pengetahuan kita dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu obyek dalam dirinya sendiri.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com
LihatTutupKomentar